Selasa, 18 Jun 2013

Tradisi Kawin PAKSA Sebelum Datang BULAN




Sanaa – Para lelaki normal, bujang atau duda, tentu ingin mendapatkan isteri dengan usia lebih muda dan tentu saja masih perawan. Namun, tradisi yang berlaku di sejumlah negara berkembang, seperti Yaman dan Afganistan, memperlihatkan kelakuan kaum Adam di sana yang sungguh keterlaluan.

Mereka bukannya mencari gadis cukup umur untuk dijadikan istEri, tetapi malah menyasar anak-anak usia di bawah satu dekad, bahkan lima-enam tahun, untuk dijadikan pendamping hidup. Meski bakat cantik sudah terlihat, namun secara lahiriah belum ada yang menarik dari tubuh anak-anak ini. Payudara dan punggung saja belum terbentuk.

Seperti dilaporkan majalah National Geographic edisi terbaru, saban tahun, 10-12 juta gadis belia dipaksa menikah sebagai tradisi dan cara menyelesaikan kemelut keluarga. Biasanya, upcara pernikahan berlangsung tengah malam atau dinihari agar tidak ketahuan polis.

Seperti pengalaman Rajani, lima tahun, dari Negara Bagian Rajashtan, India, yang tertidur saat hendak dinikahkan. Ia pun terpaksa dipangku oleh pak ciknya ke tempat pernikahan dengan calon suaminya yang baru berumur 10 tahun.

Lain lagi dengan gadis cilik dari Yaman bernama Ayesha, 10 tahun. Ia begitu ketakutan saat melihat calon suaminya yang berusia setengah abad. ?Tiap hari ia menelefon saya dan menangis,? ujar adiknya yang bernama Fatimah. Ayesha dan suaminya tinggal di sebuah desa, sekitar dua jam perjalanan dari rumah orang tuanya.

Dunia pernah dikejutkan oleh kisah Nujood Ali yang lari dari rumah suaminya kerana dinikah paksa. Ia lantas meminta pengadilan mengabulkan gugatan cerai terhadap suaminya yang berumur 30-an tahun. Upayanya berhasil. Ia sekarang kembali bersekolah dan tinggal dengan orang tuanya. Cerita Nujood dibukukan dalam 30 bahasa dengan judul I Am Nujood, Age 10 and Divorced.

Selain kehilangan masa kanak-kanak mereka, gadis-gadis bau kencur itu juga terancam kehilangan nyawanya saat melahirkan.

Tiada ulasan:

Catat Ulasan